Drama Persaingan Juara Arsenal vs Liverpool Sejak 1989 Telah Usai

Pertemuan antara Arsenal dan Liverpool pada akhir pekan ini tak ubahnya seperti level medioker karena jauh dari persaingan juara.
Duel antara Arsenal dan Liverpool biasanya selalu menarik untuk disimak, namun musim ini serasa ada yang kurang.

 

 

AgenBolaBonus.com – Selain karena pandemi COVID-19 yang belum mereda sehingga tidak bisa menyajikan atmosfer rivalitas di antara kedua suporter yang hadir langsung di stadion, persaingan mereka tidak lagi soal mengejar titel juara.

Arsenal dan Liverpool adalah dua klub yang masuk jajaran raksasa di Inggris, itu tidak terbantahkan. Namun musim 2020/21 ini keduanya ‘terpaksa’ saling sikut demi memperebutkan empat besar alias zona Liga Champions atau bahkan kemungkinan terburuk sekadar enam besar asal bisa lolos ke Eropa musim depan.

Sebuah ironi, pasalnya satu atau bahkan dua dekade lalu, cukup sulit untuk menjumpai persaingan antara Arsenal dan Liverpool tanpa memperebutkan mahkota juara, mulai dari format lama Divisi Satu hingga Liga Primer Inggris.

Salah satu pertemuan sengit antara Arsenal dan Liverpool terjadi pada musim 1988/99, partai pamungkas Divisi Satu sekaligus penentuan siapa yang menjadi penguasa Inggris waktu itu.

 

 

Liverpool, terlepas dari suasana duka akibat tragedi Hillsborough pada musim yang sama, sebenarnya diunggulkan menjadi juara karena hingga pekan ke-37 mereka memimpin klasemen liga dengan keunggulan tiga poin atas Arsenal di urutan kedua.

Mereka menjamu Arsenal di Anfield dan sebenarnya hasil seri atau atau minimal tidak kalah lebih dari satu gol dari sang tamu bisa membuat mereka berpesta. Pasalnya, selain unggul dalam raihan poin, The Reds juga unggul dalam selisih gol.

Akan tetapi, pada 26 Mei 1989, mereka yang bermain di kandang sendiri tidak mau sekadar mengincar hasil imbang alih-alih kalah. Anak asuh Kenny Dalglish bertekad untuk main cantik dan meraih kemenangan demi meredakan atmosfer berkabung pascatragedi Hillsborough yang menewaskan 96 suporter sebulan sebelumnya.

Tapi, fakta di lapangan berbicara lain karena mereka justru takluk 2-0 dari Arsenal. Dua gol kemenangan The Gunners dicetak oleh Alan Smith dan Michael Thomas, trofi Liga Inggris pun menjauhi Merseyside dan terbang ke London.

Kisah seperti itu tidak lagi menghiasi pertemuan mereka musim ini. Menjelang duel Liga Primer pekan ke-30 musim ini, posisi kedua tim cukup miris di papan klasemen. Liverpool tertatih-tatih di tangga ketujuh sementara Arsenal dua peringkat di bawah mereka.

Di bawah komando Mikel Arteta, Arsenal sebenarnya membuka kampanye dengan merengkuh Community Shield dan mengawali liga dengan performa meyakinkan dan sempat lama berada di papan atas. Tapi ‘penyakit’ inkonsistensi permainan seperti dalam beberapa musim terakhir kambuh, mereka merosot cukup jauh hingga sempat hampir menyentuh zona degradasi menjelang pertengahan musim.

Sementara Liverpool, mereka begitu digdaya ketika memutus dahaga prestasi di kasta tertinggi dengan memenangkan Liga Primer musim lalu. Hanya saja, sebagai juara bertahan, mereka musim ini tiba-tiba loyo meski sempat dominan di awal musim.

Jika inkonsistensi Arsenal lebih disebabkan karena peran para pemain kunci mereka yang angin-anginan, Liverpool lebih ke faktor kebugaran fisik dengan banyaknya andalan mereka yang silih berganti naik meja operasi. Mereka kehilangan banyak pemain, terutama di sektor pertahanan, Virgil van Dijk dan Joel Matip yang kokoh sepanjang musim lalu tidak bisa beraksi hingga akhir musim, belum lagi para pelapis seperti Joe Gomez hingga Fabinho yang juga ketiban sial.

Peluang Arsenal dan Liverpool untuk bisa mengejar Manchester City yang melaju begitu kencang sendirian di puncak klasemen praktis hampir sepenuhnya tertutup. Yang bisa mereka fokuskan setelah ini adalah mengejar tiket menuju Liga Champions musim depan lewat jalur empat besar.

Hanya saja, itu bukan perkara muda sekarang ini. Konsistensi menjadi kunci, jika mereka ingin bersaing dengan lawan-lawan yang tak kalah berat mulai dari Manchester United, Leicester City, Chelsea, West Ham United, Tottenham Hotspur dan Everton yang sama-sama mengincar tiket menuju Eropa.

Lengah sedikit, bukan tidak mungkin harapan mereka untuk mentas di kancah kontinental musim depan sirna karena untuk sekadar bersaing memperebutkan posisi kelima dan keenam yang menjadi jatah menuju Liga Europa pun tak kalah beratnya.

Sebenarnya masih ada jalan lain bagi kedua tim untuk bisa tampil di Liga Champions musim depan tanpa melalui jalur di liga. Liverpool sejauh ini masih bertahan di Liga Champions musim ini usai sukses menembus perempat-final dan jika juara mereka bisa tetap berada kompetisi antarklub elite Eropa tersebut. Pun halnya dengan Arsenal yang masih melaju hingga perempat-final Liga Europa, menjuarai turnamen itu membuat mereka berhak main di Liga Champions tahun depan.

Bisa jadi langkah tersebut adalah yang paling realistis untuk menyiasati keterpurukan mereka di Liga Primer agar tetap mampu eksis di kancah Eropa. Tapi apakah fans Arsenal dan Liverpool rela melihat tim kebanggan mereka gagal total di pentas domestik musim ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *